Belajar Bersama Maestro Kenalkan Kekayaan Bambu Indonesia
Kementerian Kebudayaan memperkenalkan kekayaan varietas bambu Indonesia melalui Program Belajar Bersama Maestro atau BBM. Program tersebut memberi kesempatan kepada generasi muda untuk mempelajari pengolahan bambu langsung dari maestro yang memiliki pengalaman di bidang kriya.
Baca Juga “Belajar Bersama Maestro, wadah regenerasi seniman muda“
Pada pelaksanaan 2026, peserta mengikuti pembelajaran bersama Maestro Kriya Bambu Jatnika Nanggamiharja. Kegiatan berlangsung selama 30 hari di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Program tersebut tidak hanya mengenalkan teknik membuat produk bambu. Peserta juga mempelajari perawatan dan pengawetan bahan, sehingga pengetahuan mengenai bambu dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Peserta Belajar Langsung Mengolah Bambu
Rangkaian kegiatan BBM Kriya Bambu 2026 turut menghasilkan karya Saung Ranggon. Karya tersebut dibuat oleh lima peserta selama mengikuti proses pembelajaran bersama Jatnika Nanggamiharja.
Saung Ranggon kemudian dipamerkan dalam acara “Pagelaran & Syukuran Belajar Bersama Maestro Bambu dan Senam Kebudayaan Indonesia”. Pameran tersebut menjadi bagian dari upaya memperlihatkan hasil pembelajaran peserta kepada masyarakat.
Melalui proses residensi, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis. Mereka dapat memahami proses berkarya secara langsung melalui pengalaman dan pendampingan maestro.
Kementerian Kebudayaan Dorong Transfer Pengetahuan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan Indonesia memiliki kekayaan varietas bambu yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari kebudayaan dan ekonomi kreatif.
Menurut Fadli, program BBM menjadi ruang bagi generasi muda untuk mempelajari cara merawat, mengawetkan, serta mengolah bambu langsung dari ahlinya.
“Lewat program Belajar Bersama Maestro, generasi muda dapat mempelajari cara melakukan perawatan, pengawetan, dan pengolahan bambu dari ahlinya langsung,” kata Fadli.
Ia menilai pengalaman maestro perlu diteruskan kepada generasi muda. Pengetahuan tersebut mencakup keterampilan teknis, pengalaman berkarya, hingga nilai yang berkembang dalam proses menjaga tradisi.
Fadli juga menyebut kriya bambu sebagai bagian dari ekspresi budaya sekaligus sektor yang memiliki potensi ekonomi. Menurutnya, bambu telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Bambu Memiliki Sejarah Panjang dalam Kehidupan Masyarakat
Pemanfaatan bambu di Indonesia mencakup berbagai kebutuhan masyarakat. Bahan tersebut digunakan untuk membangun rumah, membuat perkakas, menghasilkan karya seni, hingga mendukung kebutuhan masyarakat pada masa perjuangan.
Perkembangan pemanfaatan bambu kemudian melahirkan beragam produk kriya. Bentuknya antara lain angklung, anyaman, peralatan rumah tangga, mebel, serta berbagai produk berbasis kerajinan.
Maestro Jatnika Nanggamiharja menilai kekayaan tersebut menunjukkan besarnya potensi bambu Indonesia. Menurutnya, pemanfaatan bambu dapat mencakup bidang budaya sekaligus ekonomi kreatif.
“Banyak karya yang dibuat dari bambu, mulai dari angklung, anyaman, peralatan, mebel, obat-obatan, makanan, hingga konstruksi,” ujar Jatnika.
Keragaman penggunaan tersebut memperlihatkan bahwa bambu tidak hanya memiliki nilai sebagai bahan kerajinan. Bambu juga dapat menjadi medium untuk mempertahankan pengetahuan tradisional sekaligus mengembangkan produk kreatif.
Program BBM Hubungkan Maestro dengan Generasi Muda
Program Belajar Bersama Maestro dijalankan Direktorat Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan. Program ini menggunakan pendekatan pembelajaran langsung melalui residensi di lingkungan tempat maestro berkarya.
Peserta menjalani proses belajar selama 30 hari. Pola tersebut memungkinkan peserta memperoleh pengalaman lebih dekat dengan praktik kebudayaan yang ditekuni oleh masing-masing maestro.
Pada 2026, Kementerian Kebudayaan menghadirkan maestro dari sejumlah bidang. Selain Jatnika Nanggamiharja pada bidang kriya bambu, program juga mencakup sastra, tari bedhaya, randai, lukis, dan lenong Betawi.
Maestro yang terlibat antara lain Ahmad Tohari, Sulistyo Tirtokusumo, Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto, I Gusti Nengah Nurata, Jaja Miharja, serta Sanggar Sinar Jaya.
Regenerasi Menjadi Bagian Penting Pelestarian Budaya
Program residensi seperti BBM memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal kebudayaan melalui pengalaman langsung. Pendekatan tersebut juga membuka peluang terjadinya transfer pengetahuan antara maestro dan peserta.
Dalam konteks kriya bambu, regenerasi menjadi penting karena keterampilan mengolah bahan tidak hanya berkaitan dengan teknik. Pengetahuan mengenai pemilihan bahan, perawatan, pengawetan, dan karakter bambu juga terbentuk melalui pengalaman.
Kegiatan ini sekaligus dapat memperkenalkan bambu kepada generasi muda sebagai material yang memiliki nilai budaya dan ekonomi. Pengembangan produk yang inovatif dapat membantu memperluas pemanfaatan bambu tanpa meninggalkan identitas tradisionalnya.
Ke depan, kesinambungan program dan dokumentasi pengetahuan maestro dapat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kriya tradisional. Melalui keterlibatan generasi muda, kekayaan bambu Indonesia diharapkan tidak berhenti sebagai warisan, tetapi terus berkembang menjadi karya yang relevan.
Baca Juga “Rawat Warisan Budaya, Kemenbud Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi Bambu“