CULTURA 2027 Hadirkan Wajah Baru Hari Anak Nasional dengan Mendorong Partisipasi Anak
Hari Anak Nasional 2026 menjadi momentum lahirnya pendekatan baru dalam melibatkan anak dalam isu-isu masa depan. Melalui Children & Youth International Festival (CULTURA) 2027, anak tidak lagi diposisikan sebagai peserta pasif, tetapi diberi ruang untuk menyampaikan gagasan, berdialog, dan berkolaborasi dengan generasi muda dari berbagai negara.
Mengusung tema “Voices of the Future”, CULTURA 2027 dirancang sebagai forum internasional yang menggabungkan budaya, pendidikan, kepemimpinan, dan pertukaran gagasan. Festival ini diharapkan menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi sekaligus memperkuat peran mereka dalam membangun masa depan yang lebih inklusif.
Simposium Internasional Jadi Awal Rangkaian CULTURA 2027
Sebagai bagian dari rangkaian menuju penyelenggaraan festival pada 2027, panitia menggelar kegiatan kick-off yang mempertemukan delegasi anak dari Indonesia dan 15 negara. Pertsep ini menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan peringatan Hari Anak Nasional pada umumnya. Selain menampilkan kreativitas, peserta juga diagagas CULTURA 2027, Marcella Zalianty, mengatakan festival ini lahir dari keinginan menghadirkan event di mana anak-anak tidak hanya menjadi objek, tidak hanya menjadi penonton, tapi benar-benar menjadi subjeknya,” ujar Marcella saat jumpa terus berkembang. Anak tidak hanya dipandang sebagai penerima pendidikan atau peserta kegiatan, tetapi juga sebagai individu yang mampuagasan tersebut muncul setelah Marcella mendampingi delegasi teater anak Indonesia dalam sebuah festival budaya di Jerman. Pengalaman itu memperlihatkan masih terbatasnya forum internasional yang memberikan ruang setara bagi anak-anak untuk berdialog dan berah yang memungkinkan anak membangun jejaring internasional sekaligus memperluas wawasan mengenai festival. Tema ini menegaskan bahwa anak memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam membentuk masa depan melalui kreativaris masa depan, tapi juga pencipta masa depan. Jadi kita hadir untuk menjadi jembatan agar suara mereka terdengar lebih kuat dan keberanian merekaempatkan kebudayaan sebagai media utama untuk mempererat hubungan antarbangsa. Delegasi dari berbagai negara tidak hanya berdiskusi, tetapi juga memperkenalkan identitas budaya melalui pakaian tradisional, seni pertunjukan, dan ber dini. Anak-anak memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa setiap budaya memiliki nilai yang layak dihormati sekaligus dipaliknya, perbedaan menjadi kekuatan yang mampu mencemuan tersebut dikemas dalam bentuk simposium yang membahas kepemimpinan, kebudayaan, dan perdamaian.
Baca Juga “35 Ucapan Hari Kebaya Nasional 2026 yang Penuh Makna, Cocok Dibagikan di Media Sosial“
Konsep ini menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan peringatan Hari Anak Nasional pada umumnya. Selain menampilkan kreativitas, peserta juga diajak berdiskusi mengenai berbagai tantangan global yang akan mereka hadapi di masa mendatang.
Pendiri Keana Production sekaligus penggagas CULTURA 2027, Marcella Zalianty, mengatakan festival ini lahir dari keinginan menghadirkan ruang yang benar-benar memberikan kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi secara aktif.
“Saya melihat sepertinya ini harus ada di Indonesia. Sebuah event di mana anak-anak tidak hanya menjadi objek, tidak hanya menjadi penonton, tapi benar-benar menjadi subjeknya,” ujar Marcella saat jumpa pers di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Anak Didorong Menjadi Pelaku Perubahan
Menurut Marcella, paradigma mengenai peran anak perlu terus berkembang. Anak tidak hanya dipandang sebagai penerima pendidikan atau peserta kegiatan, tetapi juga sebagai individu yang mampu menyampaikan ide, bertukar perspektif, dan ikut memberikan solusi terhadap berbagai persoalan global.
Gagasan tersebut muncul setelah Marcella mendampingi delegasi teater anak Indonesia dalam sebuah festival budaya di Jerman. Pengalaman itu memperlihatkan masih terbatasnya forum internasional yang memberikan ruang setara bagi anak-anak untuk berdialog dan berkolaborasi dengan peserta dari berbagai negara.
Melalui CULTURA 2027, penyelenggara ingin menghadirkan wadah yang memungkinkan anak membangun jejaring internasional sekaligus memperluas wawasan mengenai keberagaman budaya dan kepemimpinan.
Tema “Voices of the Future” Angkat Suara Anak sebagai Kekuatan
Tema “Voices of the Future” menjadi benang merah seluruh rangkaian kegiatan menuju festival. Tema ini menegaskan bahwa anak memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam membentuk masa depan melalui kreativitas, pemikiran kritis, dan keberanian menyampaikan pendapat.
Marcella menilai orang dewasa memiliki tanggung jawab untuk membuka ruang agar suara anak lebih didengar dalam berbagai forum.
“Mereka bukan hanya pewaris masa depan, tapi juga pencipta masa depan. Jadi kita hadir untuk menjadi jembatan agar suara mereka terdengar lebih kuat dan keberanian mereka semakin besar,” katanya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip partisipasi anak yang terus didorong dalam berbagai kebijakan perlindungan anak, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kebudayaan Menjadi Sarana Membangun Kolaborasi Global
Selain kepemimpinan, CULTURA 2027 menempatkan kebudayaan sebagai media utama untuk mempererat hubungan antarbangsa. Delegasi dari berbagai negara tidak hanya berdiskusi, tetapi juga memperkenalkan identitas budaya melalui pakaian tradisional, seni pertunjukan, dan beragam bentuk ekspresi budaya.
Pertukaran budaya tersebut diharapkan menumbuhkan rasa saling menghargai sejak usia dini. Anak-anak memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa setiap budaya memiliki nilai yang layak dihormati sekaligus dipelajari.
Marcella menilai keberagaman bukanlah hambatan dalam membangun kerja sama. Sebaliknya, perbedaan menjadi kekuatan yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis.
“Kita ingin mengajarkan anak-anak bahwa keragaman ini bukan ancaman, melainkan sebuah orkestra harmoni,” ujarnya.
Festival Dorong Pengembangan Karakter dan Kepemimpinan Anak
Rangkaian CULTURA 2027 tidak hanya berisi pertunjukan seni. Penyelenggara juga menyiapkan forum diskusi, pelatihan kepemimpinan, pengembangan karakter, serta kegiatan kolaborasi lintas budayais, memecahkan masalah, dan bekerja sama dalam lingkungan yang beragam. Keterampilan tersebut dinilai Nasional tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga momentum memperkuat kualitas gener memaknai Hari Anak Nasional. Perayaan tidak lagi sebatas memberikan hiburan atau panggung pertunjukan, tetapi juga membuka ruang agar anak dapat berkontribusi dalam pembentukan yang melibatkan peserta dari berbagai daerah dan negara.
Program tersebut dirancang untuk membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan bekerja sama dalam lingkungan yang beragam. Keterampilan tersebut dinilai semakin penting sebagai bekal menghadapi tantangan global pada masa depan.
Melalui pendekatan ini, Hari Anak Nasional tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga momentum memperkuat kualitas generasi muda melalui pendidikan karakter, dialog, dan kolaborasi internasional.
Hari Anak Nasional Semakin Menekankan Partisipasi Anak
Hadirnya CULTURA 2027 menunjukkan perubahan cara memaknai Hari Anak Nasional. Perayaan tidak lagi sebatas memberikan hiburan atau panggung pertunjukan, tetapi juga membuka ruang agar anak dapat berkontribusi dalam pembentukan kebijakan, pengembangan budaya, dan dialog mengenai masa depan.
Dengan menggabungkan unsur budaya, kepemimpinan, dan kolaborasi global, CULTURA 2027 diharapkan mampu melahirkan generasi yang percaya diri, terbuka terhadap keberagaman, serta siap menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan dunia. Pendekatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa mendengarkan suara anak merupakan investasi penting bagi masa depan Indonesia dan komunitas global.
Baca Juga “Mengenal Fenomena Micro Emergency yang Membuat Layanan Instan Kian Dilirik“