FOKBI Angkat Kehidupan Masyarakat NTT Lewat Senam Ikan Nae di Pante
Federasi Olahraga Kreasi Budaya Indonesia (FOKBI) memperkenalkan senam kreasi Ikan Nae di Pante sebagai bentuk olahraga yang sekaligus membawa pesan budaya dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
Karya tersebut tidak hanya dirancang untuk aktivitas kebugaran. Setiap rangkaian gerakan menggambarkan berbagai aktivitas masyarakat NTT dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kegiatan bertani, menangkap ikan, hingga interaksi sosial.
Wakil Ketua Umum FOKBI Lily Greta Karmel menjelaskan bahwa senam tersebut dibuat sekitar dua tahun lalu. Menurutnya, unsur olahraga dan budaya sengaja dipadukan agar masyarakat dapat mengenal kehidupan lokal NTT melalui aktivitas yang mudah diikuti.
Baca Juga “Body Positivity di Tengah Pergeseran Standar Kecantikan, Masih Relevan?“
Gerakan Senam Terinspirasi Aktivitas Warga NTT
FOKBI memasukkan sejumlah gambaran kehidupan masyarakat NTT ke dalam koreografi Ikan Nae di Pante. Gerakan bercocok tanam menjadi salah satu bagian yang merepresentasikan aktivitas masyarakat di daerah tersebut.
Koreografi juga mengambil inspirasi dari aktivitas menangkap dan menjala ikan. Unsur tersebut menggambarkan kedekatan masyarakat dengan lingkungan serta sumber daya yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bagian lain dalam senam memperlihatkan gerakan bergandengan tangan. FOKBI menggunakan gerakan tersebut untuk menyampaikan pesan mengenai kebersamaan, kerukunan, dan semangat gotong royong.
Dengan pendekatan tersebut, senam tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan olahraga. Koreografinya juga menjadi media untuk memperkenalkan nilai sosial dan budaya kepada masyarakat yang mengikuti kegiatan.
FOKBI Ingin Ikan Nae di Pante Mendunia
FOKBI berharap Ikan Nae di Pante dapat berkembang lebih luas dan dikenal masyarakat internasional. Lily menyebut keberhasilan senam Poco-Poco menjadi salah satu inspirasi bagi pengembangan karya tersebut.
Poco-Poco sebelumnya berhasil menarik partisipasi dalam jumlah besar. Pada 2018, sebanyak 65.000 orang mengikuti Poco-Poco Dance di Jakarta hingga tercatat dalam Guinness World Records.
Menurut Lily, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa olahraga berbasis budaya dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas Indonesia. FOKBI ingin pendekatan serupa dikembangkan melalui karya yang mengangkat karakter masyarakat NTT.
“Kami ingin mengembangkan budaya NTT ini melalui senam Ikan Nae di Pante agar bisa seperti Poco-Poco yang sudah berhasil kita bawa go international ke tingkat dunia,” kata Lily.
Harapan tersebut menempatkan senam kreasi sebagai salah satu media pelestarian budaya. Olahraga menjadi sarana yang dapat mempertemukan aktivitas fisik dengan pengenalan tradisi serta kehidupan masyarakat daerah.
Dua Tahun Ikan Nae di Pante Disertai Aksi Peduli NTT
Momentum dua tahun sejak Ikan Nae di Pante diciptakan dimanfaatkan FOKBI untuk menggelar kegiatan sosial. Organisasi tersebut menggabungkan pengenalan karya budaya dengan aksi kemanusiaan bagi masyarakat NTT yang terdampak bencana.
Kegiatan tersebut mengusung nama Gerak Peduli NTT. Acara dilaksanakan secara hibrida dengan melibatkan peserta dari Jakarta dan sejumlah kepengurusan daerah FOKBI.
Lily mengatakan kegiatan itu memiliki dua tujuan. Selain memberikan perhatian kepada masyarakat yang mengalami musibah, FOKBI ingin kembali memperkenalkan budaya NTT melalui karya olahraga kreasi.
“Ada dua tujuan sekaligus, kita peduli dengan musibah di NTT, sekaligus mengangkat karya budaya kita untuk NTT. Semua gerakan senam ini menceritakan kehidupan masyarakat di sana,” ujar Lily.
Pendekatan tersebut membuat kegiatan olahraga memiliki dimensi sosial. Peserta tidak hanya mengikuti aktivitas fisik, tetapi juga diajak memahami pesan budaya dan kepedulian terhadap masyarakat di daerah.
Gerak Peduli NTT Libatkan Peserta dari Berbagai Daerah
Gerak Peduli NTT diikuti sekitar 250 peserta secara langsung di Jakarta. Kegiatan tersebut juga terhubung secara bersamaan dengan 11 kepengurusan daerah FOKBI di berbagai wilayah Indonesia.
Format hibrida memungkinkan kegiatan dilakukan secara lebih luas tanpa mengharuskan seluruh peserta berkumpul di satu lokasi. Keterlibatan kepengurusan daerah juga memperkuat pesan kebersamaan yang menjadi bagian dari nilai dalam koreografi Ikan Nae di Pante.
Selain kegiatan senam, acara tersebut menjadi bagian dari penghimpunan bantuan untuk masyarakat NTT. Donasi awal sebesar Rp25 juta telah diserahkan secara simbolis oleh Yayasan KORPRI.
Pengumpulan dana dari pengurus daerah masih berlangsung. FOKBI juga merencanakan peninjauan langsung ke wilayah NTT untuk melihat kondisi masyarakat sekaligus menyerahkan bantuan yang telah dihimpun.
FOKBI Perluas Peran Senam sebagai Media Budaya dan Sosial
Rencana kunjungan tersebut akan dilakukan jajaran pimpinan pusat FOKBI bersama Ketua Umum FOKBI Sapta Nirwandar. Selain menyalurkan bantuan, kegiatan itu diharapkan memberikan gambaran langsung mengenai kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak.
Kehadiran Ikan Nae di Pante dalam kegiatan tersebut memperlihatkan upaya FOKBI menggabungkan olahraga, kebudayaan, dan kepedulian sosial. Konsep itu sekaligus memberikan ruang bagi budaya daerah untuk dikenal melalui aktivitas yang bersifat partisipatif.
Ke depan, pengembangan senam kreasi berbasis budaya dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan keragaman Indonesia. Ikan Nae di Pante membawa cerita tentang aktivitas masyarakat NTT melalui gerakan yang dapat dilakukan bersama.
Bagi FOKBI, perjalanan karya tersebut tidak berhenti pada perayaan dua tahun. Organisasi tersebut berharap Ikan Nae di Pante dapat terus berkembang, memperluas partisipasi masyarakat, dan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya NTT ke tingkat yang lebih luas.
Baca Juga “FOKBI dan Kemenpar galang donasi bencana NTT lewat senam bersama“