Indonesia Perkuat Pemanfaatan AI di Sektor Event dan MICE
Pemerintah Indonesia mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memperkuat pengembangan wisata berbasis event dan sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan perkembangan teknologi menjadi bagian dari perubahan industri pariwisata menuju Tourism 5.0. Konsep tersebut memadukan teknologi digital, AI, big data, dan Internet of Things untuk menghadirkan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan wisatawan.
Baca Juga “7 Alasan Harga Penerbangan ke Bali Bisa Berubah dalam Sehari“
Pernyataan itu disampaikan Ni Luh dalam Indonesia Tourism & MICE Outlook 2027 di Jakarta, Kamis. Menurutnya, transformasi digital perlu diarahkan untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan sekaligus memperkuat daya saing destinasi Indonesia.
AI Mendukung Perjalanan Wisatawan Sebelum hingga Setelah Event
Pemanfaatan AI dalam industri event dan MICE dapat dilakukan sepanjang perjalanan wisatawan. Teknologi tersebut dapat membantu sejak seseorang merencanakan perjalanan hingga menentukan aktivitas setelah menghadiri suatu acara.
Pada tahap awal, teknologi dapat digunakan untuk mendukung perencanaan perjalanan dan proses registrasi peserta. Sistem digital juga dapat membantu pengelola acara mengatur data peserta serta meningkatkan interaksi selama kegiatan berlangsung.
Setelah event selesai, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memberikan rekomendasi destinasi maupun aktivitas berdasarkan kebutuhan dan minat wisatawan. Pola tersebut membuka peluang agar kegiatan MICE tidak hanya menghasilkan kunjungan singkat, tetapi juga mendorong wisata lanjutan.
Kemenpar Gunakan MaiA untuk Personalisasi Perjalanan
Kementerian Pariwisata telah mengembangkan Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia atau MaiA sebagai salah satu bentuk penerapan AI dalam layanan pariwisata.
MaiA terintegrasi dengan platform Indonesia.travel yang menyediakan sejumlah fitur pendukung perjalanan. Di antaranya terdapat travel planner dan travel companion yang dirancang untuk membantu wisatawan memperoleh informasi serta menyusun rencana perjalanan.
Ni Luh menjelaskan MaiA dapat digunakan untuk mencari inspirasi wisata, menyusun itinerary, dan memperoleh rekomendasi destinasi yang lebih sesuai dengan preferensi pengguna.
Teknologi tersebut juga dilengkapi peta interaktif serta akses informasi dalam berbagai bahasa. Fitur tersebut dapat membantu wisatawan memperoleh informasi secara lebih praktis ketika merencanakan perjalanan di Indonesia.
AI Tetap Membutuhkan Peran Manusia
Meski teknologi semakin berkembang, pemerintah menilai AI tidak dapat menggantikan unsur manusia dalam pengalaman pariwisata. Keramahtamahan masyarakat tetap menjadi bagian penting dari karakter layanan wisata Indonesia.
Karena itu, penerapan teknologi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah juga menilai kesiapan destinasi dan konektivitas perlu diperkuat agar inovasi digital dapat memberikan manfaat secara optimal.
Pengembangan event juga diarahkan agar semakin berkelanjutan dan inklusif. Manfaat ekonomi dari penyelenggaraan kegiatan diharapkan dapat dirasakan pelaku UMKM serta masyarakat di sekitar destinasi.
Kunjungan Wisatawan Indonesia Tumbuh pada 2026
Dorongan terhadap inovasi sektor pariwisata berlangsung ketika indikator perjalanan wisata menunjukkan pertumbuhan. Ni Luh menyebut jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 7,45 juta pada semester I 2026.
Angka tersebut meningkat 5,71 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.Pada periode yang sama, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 630,41 juta perjalanan.
Devisa pariwisata Indonesia juga tercatat sebesar 8,43 miliar dolar AS pada semester I 2026. Data tersebut menunjukkan aktivitas pariwisata tetap memiliki kontribusi terhadap pergerakan ekonomi nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Juli 2026 mencapai 1,53 juta kunjungan.Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara pada bulan tersebut mencapai 107,4 juta perjalanan.
Jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada Juli 2026 tumbuh 7,23 persen secara tahunan. Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pasar wisata domestik tetap memiliki peran besar dalam industri pariwisata.
Indonesia Bidik Penguatan Posisi MICE di ASEAN
Pemerintah ingin pengembangan event tidak berhenti pada kemampuan Indonesia menjadi lokasi penyelenggaraan acara. Destinasi juga perlu mampu menawarkan pengalaman yang berkualitas, inovatif, autentik, dan berkelanjutan.
Ni Luh mendorong berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat bisnis event di kawasan ASEAN. Pengembangan tersebut membutuhkan dukungan destinasi, konektivitas, teknologi, tenaga kerja, dan ekosistem usaha.
Menurut Ni Luh, keberhasilan event dapat dilihat dari dampaknya terhadap berbagai sektor. Manfaatnya antara lain pergerakan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, pengenalan budaya, serta keberlanjutan lingkungan.
Penerapan AI Pariwisata Perlu Memperhatikan Etika
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan AI seharusnya berfungsi sebagai alat pendukung bagi manusia.
Menurut Made, teknologi dapat membantu proses promosi dan memberikan rekomendasi destinasi berdasarkan preferensi wisatawan. Namun, informasi yang digunakan tetap harus memiliki dasar yang benar dan relevan.
Peran operator tur dan pemandu wisata juga dinilai belum tergantikan. Mereka dapat memberikan penjelasan mengenai sejarah, karakter destinasi, serta konteks lokal yang belum tentu dapat disampaikan secara tepat oleh sistem otomatis.
Made menekankan pentingnya pengawasan terhadap informasi yang masuk ke aplikasi maupun situs pariwisata. Validitas data perlu diperhatikan agar wisatawan tidak memperoleh informasi yang keliru.
Perlindungan Data Menjadi Perhatian
Penerapan AI di sektor pariwisata juga harus memperhatikan aspek etika dan perlindungan privasi. Data wisatawan perlu dikelola secara bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia.
Pemerintah menyatakan penggunaan teknologi tidak diarahkan untuk mengekspos data pribadi masyarakat. Prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan pengguna terhadap layanan pariwisata berbasis AI.
Pengembangan AI di sektor event dan MICE pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi. Kualitas data, kesiapan sumber daya manusia, keamanan informasi, serta pengalaman wisatawan tetap menjadi faktor yang menentukan.
AI dan MICE Menjadi Bagian dari Transformasi Pariwisata
Pemanfaatan AI memberikan peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan layanan wisata yang lebih personal sekaligus memperkuat ekosistem event dan MICE. Teknologi dapat membantu wisatawan sejak tahap perencanaan hingga menentukan kegiatan setelah menghadiri sebuah acara.
Namun, transformasi digital perlu berjalan bersama penguatan destinasi, konektivitas, sumber daya manusia, dan pelindungan data. Peran pelaku pariwisata di lapangan juga tetap penting untuk memastikan pengalaman wisatawan memiliki konteks lokal yang akurat.
Dengan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan domestik pada 2026, pengembangan wisata event dan MICE menjadi bagian dari upaya memperluas nilai ekonomi pariwisata. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi teknologi memberikan manfaat nyata bagi wisatawan, pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat lokal.
Baca Juga “Kemarin, Syahrini di Pestapora hingga Infinix luncurkan XBook 14 Neo“