Menpar Dorong Investasi ke 13 Destinasi dan 10 KEK

Menpar

Menpar Dorong Investasi ke 13 Destinasi Prioritas dan 10 KEK Pariwisata
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mendorong investor asing dan mitra internasional meningkatkan investasi di 13 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata.

Baca Juga “Surabaya Masuk Daftar Bandara dengan Perkembangan Konektivitas Terbaik di Asia“

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas sebaran investasi pariwisata di Indonesia.

Pemerintah melihat peluang besar untuk mengembangkan investasi di berbagai wilayah dengan potensi wisata yang beragam.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan realisasi investasi sektor pariwisata Indonesia mencapai Rp73,56 triliun pada 2025.

Namun, distribusi investasi masih terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Sekitar 76,5 persen investasi pariwisata tercatat berada di Jakarta dan Bali.

Dari total investasi tersebut, sekitar 75 persen diarahkan pada pembangunan hotel dan restoran.

Kondisi tersebut mendorong Kementerian Pariwisata memperluas fokus investasi menuju destinasi lain yang memiliki potensi pertumbuhan.

Pemerintah Diversifikasi Investasi Pariwisata di Luar Bali dan Jakarta
Widiyanti mengatakan pemerintah kini mendorong diversifikasi investasi agar pengembangan pariwisata tidak hanya terpusat di Bali dan Jakarta.

“Karenanya kami saat ini melakukan diversifikasi investasi di destinasi prioritas lainnya di luar Bali dan Jakarta,” kata Widiyanti dalam forum Monthly Economic Diplomatic Breakfast bersama KADIN Indonesia.

Menurutnya, sejumlah destinasi di luar dua pusat investasi tersebut telah menunjukkan perkembangan positif pada awal 2026.

Pertumbuhan kunjungan wisatawan menjadi salah satu indikator yang memperkuat prospek pengembangan investasi di destinasi prioritas.

Danau Toba menjadi salah satu contoh destinasi dengan pertumbuhan kunjungan yang signifikan.

Kunjungan wisatawan ke Danau Toba tumbuh lebih dari 106 persen pada awal 2026.

Sementara itu, kunjungan ke kawasan Lombok-Gili Tramena meningkat 72,1 persen.

Labuan Bajo juga terus mencatat pertumbuhan kunjungan dan dinilai memiliki prospek untuk pengembangan investasi pariwisata.

Investasi Pariwisata Diarahkan ke Infrastruktur dan Daya Tarik Baru
Pemerintah tidak hanya mendorong pembangunan akomodasi seperti hotel dan restoran.

Kementerian Pariwisata juga ingin mengarahkan investasi ke berbagai sektor pendukung yang dapat memperkuat ekosistem pariwisata.

Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah infrastruktur aksesibilitas.

Pengembangan marina kapal pesiar menjadi salah satu peluang yang ditawarkan kepada investor.

Pemerintah juga membuka peluang pengembangan berbagai daya tarik wisata baru untuk memperpanjang pengalaman wisatawan di suatu destinasi.

Diversifikasi tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem pariwisata yang lebih lengkap.

Dengan infrastruktur yang memadai, destinasi dapat meningkatkan kapasitas pelayanan sekaligus memberikan lebih banyak pilihan aktivitas kepada wisatawan.

Pergeseran Pola Perjalanan Buka Peluang Investasi Daerah
Pemerintah melihat pola perjalanan wisatawan mulai memberikan peluang lebih besar bagi destinasi di luar Jawa dan Bali.

Perubahan tersebut dapat menjadi momentum untuk mengembangkan destinasi yang sebelumnya belum menjadi pusat investasi pariwisata.

Pemerataan investasi dinilai memiliki dampak lebih luas terhadap perekonomian daerah.

Investasi baru dapat menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan usaha lokal, serta meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemerintah berharap pengembangan destinasi prioritas dapat membuat manfaat ekonomi pariwisata tersebar lebih merata.

Strategi ini juga sejalan dengan kebutuhan untuk meningkatkan daya saing berbagai destinasi Indonesia di pasar internasional.

Pemerintah Siapkan Insentif untuk Investor Pariwisata
Untuk meningkatkan daya tarik investasi, pemerintah menyediakan sejumlah fasilitas dan kemudahan bagi pelaku usaha.

Widiyanti menyebut pemerintah memberikan berbagai insentif untuk mendukung investasi di sektor pariwisata.

Fasilitas tersebut antara lain pengurangan pajak penghasilan melalui skema tax allowance.

Pemerintah juga menyediakan insentif bagi industri yang memiliki karakteristik padat karya.

Selain itu, terdapat fasilitas pembebasan bea masuk untuk peralatan wisata dan yacht sesuai ketentuan yang berlaku.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi hambatan investasi sekaligus meningkatkan minat investor mengembangkan usaha di berbagai destinasi.

KADIN Dukung Perluasan Investasi Pariwisata
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri KADIN Indonesia James Riady menilai pariwisata memiliki posisi strategis dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurut James, sektor pariwisata memiliki keunggulan karena Indonesia telah memiliki modal alam dan budaya yang menjadi daya tarik wisata.

Indonesia memiliki pantai, laut, kawasan penyelaman, hutan, serta kekayaan budaya yang dapat dikembangkan menjadi produk pariwisata.

Tantangannya adalah mengubah berbagai potensi tersebut menjadi peningkatan kedatangan wisatawan.

Selain jumlah kunjungan, sektor pariwisata juga perlu meningkatkan lama tinggal, pengeluaran wisatawan, investasi, penciptaan lapangan kerja, dan kunjungan berulang.

James menilai dampak investasi pariwisata dapat dirasakan masyarakat secara relatif cepat melalui penciptaan lapangan pekerjaan.

“Satu karakteristik khusus lainnya dari pariwisata, ia menyentuh masyarakat dengan sangat cepat. Setiap investasi menciptakan lapangan kerja,” ujar James.

Menurutnya, karakteristik tersebut membuat pariwisata layak memperoleh porsi yang lebih besar dalam strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sumatera Barat Punya Tiga Klaster Peluang Investasi Pariwisata
Forum tersebut juga membahas peluang investasi pariwisata di Sumatera Barat.

Terdapat tiga klaster yang dinilai memiliki potensi pengembangan.

Klaster pertama berkaitan dengan wisata berselancar di Kepulauan Mentawai.

Wilayah tersebut memiliki daya tarik berupa kawasan pesisir dan gelombang yang berpotensi dikembangkan untuk wisata olahraga air.

Klaster kedua mencakup wisata bahari di Padang dan Mandeh.

Pengembangan kawasan tersebut dapat diarahkan pada peningkatan fasilitas wisata bahari dan konektivitas untuk memudahkan wisatawan mencapai lokasi tujuan.

Klaster ketiga berkaitan dengan wisata berbasis sejarah dan budaya di Sawahlunto.

Kekayaan sejarah dan budaya Sawahlunto dapat menjadi bagian dari diversifikasi produk wisata Sumatera Barat.

Konektivitas dan Infrastruktur Jadi Kunci Pengembangan
Pengembangan destinasi tidak hanya membutuhkan daya tarik wisata.

Akses menuju destinasi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan jumlah kunjungan dan minat investasi.

Karena itu, penguatan konektivitas udara menjadi salah satu pembahasan dalam forum tersebut.

Akses penerbangan yang lebih baik dapat memangkas hambatan perjalanan dan memperluas pilihan rute bagi wisatawan.

Pengembangan infrastruktur wisata bahari juga menjadi perhatian.

Fasilitas pendukung yang memadai diperlukan untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan sekaligus mendukung aktivitas usaha di destinasi.

Indonesia juga didorong mengembangkan hyperbaric chamber atau ruang hiperbarik.

Fasilitas tersebut dapat mendukung pengembangan destinasi wisata selam dengan memberikan infrastruktur pendukung bagi aktivitas penyelaman.

Diversifikasi Investasi Diharapkan Perkuat Pariwisata Indonesia
Dorongan investasi ke 13 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 10 KEK Pariwisata menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas pusat pertumbuhan sektor pariwisata.

Strategi tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai investasi.

Pemerintah juga ingin memastikan investasi menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas bagi daerah dan masyarakat.

Data investasi 2025 menunjukkan masih besarnya konsentrasi modal di Jakarta dan Bali.

Karena itu, pengembangan destinasi lain menjadi penting untuk menciptakan distribusi investasi yang lebih seimbang.

Pertumbuhan kunjungan di Danau Toba, Lombok-Gili Tramena, dan Labuan Bajo menunjukkan adanya peluang yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Ke depan, pemerintah perlu memperkuat konektivitas, infrastruktur, kualitas layanan, serta kesiapan destinasi agar investasi dapat berkembang secara berkelanjutan.

Baca Juga “Promosi pariwisata diperkuat untuk dorong perjalanan dan transaksi“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *