Studi: Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Berat Badan Naik

Studi

Studi: Kurang Tidur Berisiko Meningkatkan Berat Badan dan Ganggu Metabolisme Tubuh

Kurang tidur selama beberapa pekan dapat berdampak nyata terhadap berat badan. Temuan ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Annals of Internal Medicine. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengurangan waktu tidur secara konsisten selama enam minggu berkaitan dengan peningkatan berat badan dan ukuran lingkar pinggang pada orang dewasa yang memiliki risiko penyakit metabolik.

Hasil penelitian tersebut memperkuat berbagai bukti ilmiah sebelumnya yang menyebutkan bahwa kualitas dan durasi tidur merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Tidur tidak hanya berfungsi untuk memulihkan energi, tetapi juga berperan dalam mengatur metabolisme, keseimbangan hormon, hingga pengeluaran energi setiap hari.

Penelitian Columbia University Temukan Dampak Kurang Tidur terhadap Berat Badan

Studi ini dilakukan oleh tim peneliti dari Columbia University Irving Medical Center dengan melibatkan 95 orang dewasa. Seluruh peserta diketahui memiliki faktor risiko penyakit jantung atau gangguan metabolik sehingga dipilih untuk melihat bagaimana perubahan pola tidur memengaruhi kondisi kesehatan mereka.

Baca Juga “Rok Legging Hijab Friendly yang Nyaman Dipakai, Bikin Aktivitas Olahraga Makin Maksimal

Penelitian menggunakan metode yang membandingkan kondisi peserta dalam dua periode berbeda. Selama enam minggu pertama, peserta menjalani pola tidur normal sesuai kebiasaan mereka. Setelah itu, selama enam minggu berikutnya, waktu tidur mereka dikurangi sekitar 90 menit setiap malam.

Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti membandingkan perubahan kondisi tubuh pada orang yang sama sehingga hasil penelitian menjadi lebih akurat. Selama penelitian berlangsung, peserta tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa tanpa perubahan besar dalam rutinitas fisik mereka.

Hasil analisis menunjukkan bahwa setelah menjalani periode kurang tidur, peserta mengalami kenaikan berat badan rata-rata sekitar satu pon atau sekitar 0,45 kilogram. Selain berat badan bertambah, lingkar pinggang peserta juga mengalami sedikit peningkatan dibandingkan saat mereka memperoleh waktu tidur yang cukup.

Peneliti juga mencatat adanya perubahan perilaku selama fase kurang tidur. Peserta cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dalam posisi duduk atau melakukan aktivitas yang minim gerakan. Meski demikian, durasi aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Penelitian Belum Menemukan Penyebab Langsung Kenaikan Berat Badan

Walaupun terjadi peningkatan berat badan, tim peneliti tidak menemukan perubahan bermakna pada massa lemak maupun massa otot peserta selama penelitian berlangsung. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan berat badan dalam jangka pendek belum tentu langsung berkaitan dengan penambahan jaringan lemak.

Penelitian ini juga memiliki sejumlah keterbatasan. Salah satunya, peneliti tidak mencatat secara rinci jumlah makanan maupun asupan kalori yang dikonsumsi peserta setiap hari. Karena itu, mereka belum dapat memastikan apakah kenaikan berat badan dipengaruhi oleh peningkatan konsumsi makanan, perubahan metabolisme, retensi cairan, atau kombinasi dari beberapa faktor tersebut.

Meski demikian, para peneliti menilai hasil studi ini memberikan gambaran bahwa tidur memiliki hubungan erat dengan keseimbangan energi dalam tubuh. Perubahan kecil pada durasi tidur saja sudah mampu memengaruhi kondisi fisik seseorang dalam waktu relatif singkat.

Kurang Tidur Dapat Mengganggu Sistem Metabolisme

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi (OB-GYN) asal Ohio, Dr. Somi Javaid, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan tidur merupakan bagian penting dalam sistem metabolisme manusia. Menurutnya, tubuh membutuhkan waktu tidur yang cukup agar proses pengaturan hormon dan penggunaan energi dapat berjalan optimal.

Ia menjelaskan bahwa kurang tidur secara terus-menerus dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam mempertahankan berat badan yang sehat. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi keseimbangan berbagai hormon yang mengatur rasa lapar, kenyang, hingga proses penyimpanan energi.

“Kurang tidur kronis bukan sekadar kebiasaan gaya hidup. Kita perlu memperlakukan tidur sebagai tanda vital kesehatan,” kata Dr. Somi Javaid.

Javaid menambahkan bahwa tidur kini diakui sebagai salah satu komponen penting dalam menjaga kesehatan jantung. American Heart Association bahkan memasukkan tidur ke dalam Life’s Essential 8, yaitu delapan faktor utama yang memengaruhi kesehatan kardiovaskular selain pola makan, aktivitas fisik, tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, berat badan, dan kebiasaan tidak merokok.

Tidur Cukup Berpengaruh pada Hormon Pengatur Nafsu Makan

Sejumlah penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kurang tidur dapat memengaruhi produksi hormon ghrelin dan leptin. Ghrelin merupakan hormon yang merangsang rasa lapar, sedangkan leptin berfungsi memberikan sinyal kenyang kepada otak.

Ketika waktu tidur berkurang, kadar ghrelin cenderung meningkat sementara kadar leptin menurun. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lapar dan terdorong mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih banyak, terutama makanan tinggi gula dan lemak.

Selain itu, kurang tidur juga sering dikaitkan dengan meningkatnya kadar hormon kortisol atau hormon stres. Peningkatan kortisol dalam jangka panjang dapat memengaruhi penyimpanan lemak tubuh serta meningkatkan risiko gangguan metabolisme apabila disertai pola hidup yang kurang sehat.

Meski hubungan tersebut belum dibuktikan secara langsung dalam studi terbaru ini, para ahli menilai mekanisme hormonal menjadi salah satu penjelasan yang paling mungkin mengenai hubungan antara kurang tidur dan peningkatan berat badan.

Menjaga Durasi Tidur Sama Pentingnya dengan Pola Makan dan Olahraga

Para ahli kesehatan menekankan bahwa menjaga berat badan ideal tidak cukup hanya mengandalkan pola makan sehat dan olahraga rutin. Durasi serta kualitas tidur juga harus menjadi bagian dari gaya hidup sehat karena ketiganya saling memengaruhi.

American Heart Association merekomendasikan orang dewasa memperoleh waktu tidur antara tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Tidur yang cukup membantu tubuh memperbaiki jaringan, menjaga fungsi otak, menstabilkan hormon, serta mendukung metabolisme yang sehat.

Bagi masyarakat yang ingin menjaga berat badan atau menurunkan risiko penyakit metabolik, membangun kebiasaan tidur yang teratur dapat menjadi langkah sederhana namun berdampak besar. Menghindari begadang, membatasi penggunaan gawai sebelum tidur, serta menciptakan lingkungan tidur yang nyaman merupakan beberapa cara yang dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat.

Temuan dalam penelitian ini semakin memperkuat pandangan bahwa tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Tidur merupakan kebutuhan biologis yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan metabolisme, kesehatan jantung, dan berat badan. Meski masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui mekanisme yang lebih rinci, hasil studi ini memberikan pengingat bahwa memenuhi kebutuhan tidur setiap malam merupakan investasi penting bagi kesehatan jangka panjang.

Baca Juga “Menjaga saluran cerna anak demi tumbuh kembang optimal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *